P" NGAH HILMI KAMBIN P'GANG

Isnin, 21 Mei 2012

KESABARAN & BULAN REJAB


Suatu pagi yang hening


Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Pengasih dan Penyayang

Salam hari isnin semoga kita semua sentiasa
dirahmati Allah hendaknya
walau dimana saja berada.

Suatu pagi yang hening shami & Pak Ngah mempunyai agenda tersendiri,
namun Allah
mengaturkannya begini ...

alhamdulillah saling membantu pada yang perlu.
Walau tidak mengenali.....

Suatu tengahari yang indah, 

seorang gadis manis mempelawa ke kedainya
dia penjual &
pemborong tudung 
tiba-tiba saya terluang untuk bercakap tentang
pemakaian tudung, fesyen dan syariatnya...
Bukan sesuatu yang susah namun itulah aturanNya...

Suatu petang yang indah disebuah pasaraya segar,

seseorang sedang sibuk memunggah barang,
ada satu barang sudah bergolek kelantai
lalu saya kutip dan hulurkan kepadanya....semula
begitulah kebaikan dan berbuat baik boleh saja dimana2...


Nilailah semuanya dari sudut hati nurani kita...

...peka dengan suasana
di situ ada indahnya...kehidupan kita.
Sentiasa wasapada.
Elakkan wasangka...ceriakan kehidupan kita...
Kenalilah DIA....yang menciptakan kita.


Alhamdulillah
Maghrib nanti insyallah kita akan melangkah
ke bulan Rejab sekali lagi,
sama2 kita ingat akan diri kita dan ahli keluarga,
untuk tingkatkan amal ibadah
sentiasa, istimewa buat bulan yang baik ini...
sebagai persediaan untuk
bulan Ramadhan bakal tiba nanti, juga
sebagai persediaan bagi mencapai
tingkatan hidup yang terbaik dari yang baik.
dari tahun ke tahun insyallah...
untuk kita kembali ke sisiNya dengan
penuh keredhaan, limpah rahmat dan kasih sayang dariNya.

SABAR MENGHADAPI UJIAN HIDUP
( APAKAH KESABARAN ADA BATASNYA? )
Sesungguhnya ujian dan cobaan yang datang
 bertubi-tubi menerpa hidup manusia
merupakan satu ketentuan yang telah
ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla.

Tidak satu pun diantara kita yang mampu menghalau ketentuan tersebut.

Keimanan, keyakinan, tawakkal dan kesabaran yang

kokoh amatlah diperlukan oleh
seorang hamba dalam menghadapi badai cobaan yang menerpanya.

Sehingga tidak menjadikan dirinya berburuk sangka
kepada Allah Subhanahu wata’ala terhadap
apa yang telah ditentukan baginya.

Oleh kerana itu, dalam keadaan apa pun

 seorang hamba yang beriman kepada-Nya harus
 senantiasa berbaik sangka kepada Allah.

Dan haruslah diyakini bahwa tidaklah Allah
menurunkan berbagai musibah
melainkan sebagai batu ujian atas keimanan yang mereka miliki.
Allah Ta’ala berfirman :

Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk ke dalam surga,

 padahal belum datang kepada kalian (cobaan)
sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian?
Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan,
 serta digoncangkan (dengan bermacam-macam goncangan)
sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang bersamanya :
 Bilakah datang pertolongan Allah?
Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah amatlah dekat.”
 (Al Baqarah : 214)

Kesabaran merupakan perkara
yang amat dicintai oleh Allah dan sangat dinanti seorang muslim
 dalam menghadapi ujian dan cobaan yang dialaminya.
Sebagaimana dalam firman-Nya :

“…Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran : 146)

Selama roda kehidupan terus berputar,
seorang takkan pernah luput dari menuai ujian dan cobaan.


Dengan berbagai musibah yang datang silih berganti ini,
 hendaknya seorang muhasabah diri dan semakin
mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Bukan mengambil jalan pintas dengan
 mengklaim ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan-Nya.


Karena tidak ada yang bisa memberikan solusi terbaik
 dari berbagai ujian dan cobaan hidup melainkan
hanya Allah Azza wa Jalla.

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam
menggambarkan kriteria seorang mukmin
dalam menyikapi ketentuan Allah Subhanahu wata’ala, beliau bersabda :
عجباً لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ, فَكَانَ خَيْراً لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ ". رواه مسلم

“Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin.
Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya.
Dan tidaklah didapatkan pada seorang pun hal tersebut melainkan pada diri seorang mukmin :
Jika dia merasakan kesenangan maka dia bersyukur.
Dan itu lebih baik baginya.
Jika kesusahan menerpanya, maka dia bersabar. Dan itu lebih baik baginya.”
(Riwayat Muslim)

Asy Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah,
beliau menerangkan tentang hadits di atas :

(Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin.
Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya),
maksudnya :
 “Sesungguhnya Rasul ‘alaihis sholatu wassalam menampakkan kekaguman beliau dengan pandangan kebaikan (terhadap perkara seorang mukmin),

maksudnya : “terhadap urusannya.”
Maka sesungguhnya seluruh urusan itu (dianggap) baik baginya dan tidak terdapat hal tersebut kecuali pada diri seorang mukmin.

Kemudian Rasul ‘alaihisholatu wassalam memberikan rincian tentang perkara kebaikan tersebut dengan sabdanya :
 (Jika dia merasakan kesenangan maka dia bersyukur.
 Dan itu lebih baik baginya.
Jika kesusahan menerpanya, maka dia bersabar.

Dan itu lebih baik baginya). Beliau (Asy Syaikh Al Utsaimin) berkata :

“Ini adalah keadaan seorang mukmin.
Setiap manusia berada dalam ketentuan-ketentuan Allah,
baik berupa kesenangan maupun kesusahan.
Dan manusia dalam menyikapi ujian dan cobaan ini terbagi menjadi dua golongan :
mukmin dan non mukmin (kafir).

Adapun golongan Mukmin ; menganggap baik segala ketentuan Allah baginya.

Jika kesusahan itu menimpanya,
 maka dia bersabar atas ketentuan-ketentuan Allah dan senantiasa menanti pertolongan-Nya serta mengharapkan pahala Allah.
Semua itu merupakan perkara yang baik baginya
dan dia memperoleh ganjaran kebaikan selaku orang-orang yang bersabar.

Jika kesenangan itu mendatanginya,

baik berupa kenikmatan agama ;
seperti ilmu, amalan sholih dan kenikmatan dunia ;
seperti harta, anak-anak dan keluarga,
maka dia bersyukur lagi menjalankan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla.

Oleh karena itu, seorang mukmin memperoleh dua kenikmatan, yaitu :

kenikmatan agama dan dunia.
Kenikmatan dunia diperoleh dengan kesenangan
dan kenikmatan agama diperoleh dengan bersyukur.
Maka inilah kondisi seorang mukmin.

Adapun golongan non mukmin ;

(Sungguh) berada dalam kejelekan,
wal’iyyadzubillah.
Jika kesusahan itu menimpanya, maka dia tidak sabar,
berkeluh kesah, mencemooh, mengutuk,
mencerca masa (waktu) bahkan mencela Allah Azza wa Jalla.

Jika kesenangan menghampirinya,
dia tidak bersyukur kepada Allah.
Maka kesenangan ini akan menjadi balasan siksaan di akhirat.

Maka kondisi orang kafir tetap jelek,
baik mendapatkan kesusahan maupun kesenangan.
Berbeda halnya dengan orang mukmin yang senantiasa dalam kebaikan dan kenikmatan.



Ada beberapa faedah (yang bisa kita ambil) dari hadits ini :


1. Adanya dorongan (untuk tetap kukuh) diatas keimanan.
Dan seorang mukmin senantiasa dalam kebaikan dan kenikmatan.

2. Adanya dorongan untuk sabar atas kesusahan yang menimpa.

Karena (sabar) merupakan perangai keimanan.
Apabila anda sabar dalam menghadapi kesusahan dan diiringi dengan menanti (pertolongan) Allah agar dibebaskan dari (kesusahan tersebut).
Kemudian mengharap pahala Allah Subhanahu wata’ala,
maka hal tersebut merupakan tanda keimanan.

3. Adanya dorongan untuk bersyukur tatkala (memperoleh) kesenangan.

Jika seorang bersyukur kepada Rabbnya atas nikmat yang diperoleh.
Maka ini adalah taufiq dari Allah dan termasuk salah satu sebab bertambahnya kenikmatan, Sebagaimana Allah berfirman :

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan :
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur,
pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu,
dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku),
maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
(Ibrahim : 7).

Jika Allah memberi taufiq kepada seorang hamba untuk bersyukur kepadanya,
maka ini adalah suatu nikmat yang patut untuk disyukuri untuk kedua kalinya.
Dan apabila dia diberi taufik lagi,
maka itu adalah suatu nikmat yang patut disyukuri untuk ketiga kalinya.
Demikian seterusnya.
Sedikit sekali manusia yang mensyukuri nikmat-Nya.
Oleh karena itu,
jika Allah menganugerahkan kepada anda rasa syukur
 dan memberikan pertolongan padanya, maka ini adalah nikmat.

Oleh karena itu,

disebutkan dalam sebuah sya’ir :
Jika rasa syukur terhadap nikmat Allah itu adalah sebuah nikmat
Maka yang semisalnya (nikmat tersebut) wajib pula disyukuri
Tidak akan sampai rasa syukur itu melainkan dengan keutamaan-Nya
Walaupun hari-hari (masanya) panjang dan umur pun (masih) menyertai
(Syarah Riyadhus Sholihin hal 95-96 cet Darul Aqidah)

Alangkah indahnya perangai seorang mukmin

ketika menghadapi ketentuan-ketentuan yang berlaku padanya.
Jika ujian itu datang berupa nikmat,
maka dia mensyukurinya.
Dan jika ujian itu datang berupa kesulitan,
kesusahan,
kemiskinan,
kelaparan,
musibah dan sebagainya,
maka dia bersabar dengannya.

Dua perangai tersebut,

yaitu syukur dan sabar merupakan amalan yang agung,
bahkan keduanya termasuk dalam perangai keimanan.
Sebagaimana dikatakan oleh sebagian Salaf :
 “Iman itu dua bagian,
bagian pertama adalah sabar dan bagian kedua adalah syukur.”
Dan mereka menyandarkan perkataan tersebut dengan firman Allah Azza wa Jalla :

“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda
(kekuasaan Allah) bagi
setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.”

(Ibrahim : 5)

jadi Ketahuilah,
sabar itu tidak mempunyai batas,
dan dengan demikian kalimat yang sering diungkapkan oleh banyak orang
 “sabar itu ada batasnya”
adalah suatu kekeliruan.
Tumbuhnya kesabaran di bumi hati seseorang bagaikan tumbuhnya

sulur-sulur keimanan,
yang menjulur kelangit,
yang menguatkan tangga-tangga makrifat,
yang diturunkan para malaikat
untuk menyambut salik yang berjalan dengan kesabaran
menuju penyaksian kepada-Nya.
Maka sabar pun tak berbatas karena dasar dan langit-langitnya

berada dalam celupan KemahakuasaanNya.
&&&&&
 
 
             BULAN REJAB MENURUT PERSPEKTIF AL-QURAN DAN AS-SUNNAH

1. Rejab ertinya “Mulia”.
 Bulan Rejab adalah bulan mulia.
Ia diberi nama sedemikian kerana
bangsa Arab dahulu sangat memuliakan bulan ini
2. Tanggal 27hb Rejab berlakunya peristiwa penting
dalam kehidupan Rasulullah SAW iaitu Isra’ dan Mi’raj.
Terdapat khilaf di kalangan ulama’
mengenai tarikh sebenar berlakunya peristiwa ini
tetapi jumhur ulama’ bersepakat menerima ianya berlaku pada 27hb Rejab.
Tarikh berlakunya Isra’ dan Mi’raj tidaklah penting
tetapi umat Islam wajib meyakini bahawa peristiwa ini benar-benar
berlaku ke atas tubuh mulia Rasulullah SAW
berdasarkan dalil qatie dari al-Quran dan hadis-hadis sahih.
3. Pada bulan ini juga berlakunya peperangan Tabuk
pada tahun 9 Hijrah iaitu peperangan terakhir
 yang disaksikan oleh Rasulullah SAW.

******
Berdasarkan dalil al-Quran jelas menunjukkan bahawa bulan Rejab termasuk dalam bulan-bulan yang sangat dimuliakan atau dipanggil juga Al-Ashhur Hurum.
Perlu ditegaskan bahawa melakukan puasa dalam bulan-bulan ini adalah dituntut (mandub).
Ada hadis yang menyebut bahawa Rasulullah SAW menyuruh para sahabat melakukan puasa sunat dalam bulan Al-Ashhur Hurum.
Berpuasa dalam bulan Rejab adalah dituntut tetapi tiada satu hadis sahih yang mebuktikan bahawa berpuasa pada hari-hari tertentu dalam bulan Rejab akan mendapat ganjaran istimewa.

Dalam satu riwayat datang seorang lelaki dari Bahilah datang menemui Rasulullah SAW dan bertanya,
“Ya Rasulullah, saya adalah lelaki yang datang menemui anda pada tahun pertama” Ujar Nabi SAW, “Kenapa keadaanmu telah jauh berubah padahal dahulunya kelihatan baik?
 Kata lelaki itu, “Semenjak berpisah dengan anda, saya tidak makan hanyalah di waktu malam”
Maka tanya Rasulullah SAW “Kenapa kamu seksa dirimu?”
Lalu sabdanya “Berpuasalah pada bulan sabar – yakni bulan Ramadan dan satu hari dari setiap bulan!”
Tambahlah buatku kerana saya kuat melakukannya! Ujar lelaki itu.
  “Berpuasalah dua hari! Sabda Nabi. “Tambahlah lagi!” Mohon lelaki itu pula.
Maka Nabi SAW bersabda “Berpuasalah dalam bulan suci (haram) lalu berbukalah! (kemudian diulangi sebanyak tiga kali) sambil mengucapkan itu Nabi SAW memberi isyarat dengan jari-jarinya yang tiga, mula-mula digenggam lalu dilepaskan”
(Riwayat Ahmad, Abu Daud, Ibn Majah dan Baihaqi dengan sanad yang baik).

Berpuasa dalam bulan-bulan haram iaitu empat bulan, tiga bulan berturut-turut (Zulkaedah, Zulhijjah dan Muharram) dan satu bulan berasingan (Rejab) adalah sebaik-baik bulan untuk berpuasa selepas Ramadan.
Sebaik-baik bulan haram ialah Muharram diikuti dengan Rejab dan seterusnya.
Keempat-empat Imam Mazhab sepakat mengatakan bahawa berpuasa dalam bulan haram sangat dituntut namun adalah makruh memilih bulan Rejab sahaja untuk berpuasa.

Terdapat satu hadis yang bertaraf hasan menceritakan bahawa Rasulullah SAW telah berpuasa
(di dalam bulan Rejab) lebih banyak daripada bulan Sya’aban dan bila ditanya, baginda menyatakan, kerana ia (Rejab) bulan pengampunan di antara Rejab dan Ramadan.
Ada sebahagian masyarakat
  berpuasa berturut-turut (Rejab, Sya’aban dan Ramadan) di ketiga-tiga bulan.
 Ini bukannya dari Rasulullah SAW, bukan dari sahabat dan salafussoleh.
Yang terlebih baik ialah berpuasa sebahagiannya atau berpuasa selang sehari dan bukan berterusan. Inilah sunnah Rasulullah SAW.

Wasallam

Selamat beramal semoga hidup kita beroleh keredhaan Allah SWT dunia dan akhirat.

Tiada ulasan: